Oleh: Buyung H, Balubun
——-Ambon——-
Manusia adalah pengembara kesadaran di panggung semesta. Ia berjalan dengan obor pengetahuan di tangannya, merasa tercerahkan, merasa memahami. Namun sering kali, cahaya yang dibawanya justru menciptakan bayang-bayang yang lebih pekat. Di sanalah ironi bermula: ketika pengetahuan yang dimaksudkan untuk menerangi, perlahan berubah menjadi kabut yang menutupi realitas.
Kita tidak lagi melihat dunia sebagaimana adanya. Kita melihatnya melalui bingkai konsep, teori, kategori, dan tafsir. Realitas tidak hadir secara langsung, melainkan selalu sudah dibungkus oleh konstruksi epistemologis—cara pandang yang kita bangun untuk memahaminya. Seperti kaca yang berdebu, pengetahuan memantulkan cahaya sekaligus mendistorsinya. Heidegger (1927) mengingatkan bahwa manusia modern terlalu sibuk dengan interpretasi hingga kehilangan perjumpaan langsung dengan Ada (Being). Kita lebih akrab dengan penjelasan tentang dunia daripada dengan dunia itu sendiri.
Epistemologi, yang seharusnya menjadi jembatan menuju kebenaran, sering menjelma menjadi tembok pemisah. Foucault (1972) menunjukkan bagaimana sistem pengetahuan membentuk rezim kebenaran—struktur yang menentukan apa yang boleh dianggap benar dan apa yang harus disingkirkan. Dalam sistem itu, manusia tidak lagi bebas melihat; ia melihat sesuai dengan apa yang diizinkan oleh kerangka pikirnya. Dogma, teori, dan narasi besar menjadi lensa permanen yang sulit dilepaskan. Tanpa disadari, kita lebih percaya pada peta daripada pada wilayahnya.
Di era digital, racun epistemologis itu menemukan medium yang paling subur. Arus informasi mengalir deras tanpa jeda, membanjiri kesadaran kita dengan data yang tak sempat diendapkan. Floridi (2014) menyebut zaman ini sebagai revolusi infosfer—di mana realitas bercampur dengan representasi digitalnya. Kita merasa mengetahui banyak hal, padahal yang kita miliki sering kali hanyalah serpihan informasi tanpa kedalaman makna. Kebenaran direduksi menjadi apa yang paling sering muncul di layar; popularitas menggantikan verifikasi; kecepatan mengalahkan kebijaksanaan.
Secara psikologis, kecenderungan ini berakar pada kebutuhan manusia akan kepastian. Vervaeke (2019) menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan kuat untuk “merealisasikan relevansi”—mencari pola dan kepastian agar dunia terasa stabil. Namun kepastian yang terlalu cepat sering kali semu. Ia dibangun di atas asumsi yang tak diuji dan interpretasi yang tak disadari. Kita memilih apa yang menenangkan kecemasan eksistensial kita, bukan apa yang benar-benar mencerminkan kenyataan. Di titik ini, pengetahuan berubah menjadi pelindung ego, bukan lagi sarana pencerahan.
Ontologi menawarkan jalan pulang. Jika epistemologi bertanya “bagaimana kita mengetahui?”, ontologi bertanya lebih radikal: “apa yang sungguh-sungguh ada?” Sartre (1943) menegaskan bahwa keberadaan mendahului esensi—bahwa realitas tidak bergantung pada tafsir kita. Ada sesuatu yang hadir sebelum kita menamainya, sebelum kita mengonseptualisasikannya. Ontologi mengajak kita merendahkan diri di hadapan keberadaan, mengakui bahwa dunia tidak wajib tunduk pada kategori pikiran kita.
Melihat secara ontologis berarti berani mengalami sebelum menilai, menyaksikan sebelum menyimpulkan. Ia menuntut keterlibatan langsung—kehadiran yang utuh—bukan sekadar pengamatan yang berjarak. Dalam kesadaran semacam itu, realitas tidak direduksi menjadi objek analisis, melainkan dialami sebagai peristiwa keberadaan yang hidup.
Keracunan epistemologis pada akhirnya adalah penyakit kolektif zaman ini. Kita terobsesi untuk menjelaskan segalanya, namun jarang sungguh-sungguh mengalaminya. Kita menghafal definisi tentang cinta tanpa mencintai; memahami teori tentang keadilan tanpa memperjuangkannya; mendiskusikan makna hidup tanpa benar-benar menjalaninya. Tafsir menggantikan pengalaman, konsep menggantikan kehadiran.
Maka, jalan keluarnya bukanlah menolak pengetahuan, melainkan memurnikannya. Pengetahuan perlu disertai kerendahan hati ontologis—kesadaran bahwa ia hanyalah alat, bukan realitas itu sendiri. Kita perlu belajar kembali melihat dengan mata yang belum tercemar prasangka, mendengar tanpa segera menghakimi, mengalami tanpa tergesa-gesa memberi label.
Pengetahuan sejati bukanlah tumpukan teori yang memenuhi kepala, melainkan kejernihan yang membebaskan pandangan. Ia bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan transformasi kesadaran. Seperti seseorang yang terbangun dari mimpi panjang, manusia perlu membuka mata batinnya dan menyadari bahwa dunia selalu lebih luas daripada konsep-konsepnya.
Pada akhirnya, kebijaksanaan bukanlah tentang mengetahui segalanya, melainkan tentang mampu hadir sepenuhnya. Hidup tidak selalu harus dijelaskan; ia perlu dijalani dengan kesadaran yang jernih dan hati yang terbuka. Di sanalah, di antara sunyi sebelum tafsir, manusia menemukan kembali realitas—dan mungkin, menemukan kembali dirinya sendiri.
***
