Oleh: Ferry Silubun.
Dahulu, fajar menyapa anggun di celah pegunungan,
menyebarkan embun basah pada dedaunan yang tenang.
Kini, rimba ditelan asap yang meluap dari keserakahan,
menutup pandangan, merampas napas yang kian merana.
Bukan kabut Mandawalangi yang meliuk di pucuk cemara,
bukan pesona alam yang membawa ketenangan jiwa.
Melainkan kabut kebencian yang lahir dari ketidakpedulian,
terbit dari ruang-ruang ber-AC yang kedap pertimbangan.
Izin diterbitkan, janji manis diobral tanpa jeda,
atas nama pembangunan, hutan raya dibiarkan terluka.
Asap menebal, menutupi jerit anak-anak di pemukiman,
sementara para penentu kebijakan bertopang dagu tanpa beban.
Kalian menjual langit demi hitungan rupiah,
menukar udara segar dengan pekatnya amarah.
Rakyat menghirup sesak, tanah kehilangan nyawa,
sedangkan kursi kekuasaan tetap bergeming tanpa rasa.
Kabut ini bukan lagi tarian embun pagi
ini duka yang mengendap, menjelma menjadi belati.
Selama ketamakan terus diberi panggung dan pujian,
asap ini akan terus membakar nurani dan kepemimpinan.
Karena alam tak memaafkan keserakahan yang berlarut,
dan kebencian yang ditimbun di udara, suatu saat akan berbalut
menjadi badai yang tak hanya menelan asap,
tetapi juga menagih janji yang telah lama hilang di telan waktu.
Kita berhak menghirup udara bersih, dan itu bukan kemewahan.
Hentikan kerusakan sebelum alam tak lagi memberi kesempatan.
